Oleh : Adinda Muna telah di post pada majalah Zennith UIN Wali Songo Semarang
Besok adalah
hari minggu. Kami sekeluarga akan berekreasi ke pantai. Semua persiapan telah
kami siapkan. Ini merupakan yang paling senangi. Bermain di laut. Yaaaaa
walaupun aku pernah mengalami hal yang pahit dengan laut,,TSUNAMI. Tapi sejenak
aku lupakan karena aku ingin bermain dengan panorama alam itu. Karena besok
kami akan pergi,maka ibu ku menyuruh ku untuk menyetrika pakaian yang sudah
menggunung. Tepat pukul 20.00 WIB
aku nyetrika pakaian dibantu ibuku. Lama ku
menyetrika,,hingga pada akhirnya jarum jam tepat berdiri pada angka sebelas.
Malam itu,ayah ku pergi ke Ujong
Batee dengan mengendarai mobil,padahal saat itu ayah ku belum begitu mahir
mengendarai kendaraan beroda empat itu. Awal nya ibu ku tak mengizinkannya,tapi
karna ayah ku nekat,maka ayahku segera pergi kesana,bersama orang-orang desa
setempat . Disana pemuda-pemuda di tempat aku tinggal mengadakan acara
syukuran.
Dirumah..
Rasanya badanku pada pegal-pegal
semua setelah nyetrika segitu banyak. Aku berniat untuk segera melepas lelahku.
Sebeumnya aku menunaikan ibadah shalat isya terlebih dahulu.
“Allahummaghfirlii
zunubii waliwalidayya warhamhuma kama
rabbayanii shaghiraa” Doa
rutinku setiap selesai shalat.
Hmmm…smua orang rumah sudah
terlelap, begitu juga dengan ibu ku. Kecuali ayahku yang masih bermain dengan
gelapnya malam di luar sana.
Aku pun beranjak ke tempat tidurku,dan siap menuju ke pulau kapuk. Sebelumnya
aku memasang headset di telinga ku.
Mendengan siaran salah satu radio swasta di banda aceh menjadi pilihanku.
“………………………….
………………………………
……………………………
Tuhan
pastikan memberikan kebesaran dan kuasaNya
Bagi
hambaNya yang sabar..
Dan
tak kenal putus asa………”
Begitulah lirik alunan lagu
D’masive yang kudengar. Dan aku pun
mulai mejelajahi dunia impi.
“ isra…isra…isra…”
Sayup-sayup
kudengar panggilan namaku. Dan aku pun terbangun. Ku lihat sesosok perempuan
berambut sebahu memanggil-manggil namaku. Ternyata orang itu adalah ibuku.
Segera ku jawab.
“Ya..ada apa buk…???”
“Tidur dikamar ibuk aja yok…”
Kudengar jawaban ibuku yang agak bergetar. Ku lihat jam di dinding menunjukkan
pada angka dua belas. Tepat tengah malam.
“oo..ya buk” aku segera bangkit dari
tempat tidur ku. Dan berjalan menuju
kamar ibuk. Dalam pikiranku, “apa ini??
Kenapa ibuk begitu kelihatan cemas”.
Dikamarnya ibuk segera duduk diatas
tempat tidurnya. Ku pegangi tangannya.Dingin. Itu yang ku rasa. Dari bibirnya
terus keluar shalawat atas nabi. Aku semakin bertanya-tanya. Tak bisa ku
pungkiri, aku begitu cemas dengan keadaan ibu.
“Kenapa buk?” Tanyaku unutuk
menghilangkan tanda Tanya besar dalam pikiranku.
“Tidak tau, tadi padahal ibuk lagi
tidur, tiba terbangun langsung keluar keringat dingin..jantung ibuk langsung
bergedup kencang” ceritanya dengan suara bergetar,dan kembali melanjutkan
bacaan shalawatnya. Terus ku pegangi tangannya yang dingin itu. Dan kulihat
wajahnya yang pucat.
“Buk,isra buat air gula dulu ya!!”
tawarku kepada ibuk.
“boleh,tapi jangan lama sekali”
pinta ibuku kepada ku.
Segera ku beranjak dan menuju ke dapur.
Ku ambil gelas dan gula ,tak lupa ku tuangkan air hangat kedalamnya, sehingga
gula itu larut kedalamnya. Entah kemana gula itu menghilang yang pasti gula itu
telah menyatu kedalam air. Setelah itu Ku langsung menuju ke kamar ibuk, dengan
membawa segelas air gula untuk ibu.
“Ini buk,diminum dulu”
Ibuku pun mulai meneguk seteguk demi
seteguk sehingga air gula itu habis. Masih terlihat kecemasan di wajahnya. Dan
aku pun bertanya lagi.
“Ibuk khawatir ya sama ayah??”
“Tidak,sedikitpun ibuk tidak memikirkannya
lagi” Dan kembali bershalawat, dan kini keluar butiran-butiran cair dari
matanya. Aku pun semakin cemas. Aku tak tau berbuat apa saat itu. Tapi
tiba-tiba ku teringat untuk mengirim pesan singkat untuk ayah. Ku ambil handphone nokia tipe 2630 milikku. Dan
mulai mengetik pesan singkat.
To :
Ayah saiia
Ayah, dimana sekarang? Ibuk saket.
Lama ku tunggu balasan dari ayah.
Kini lingkaran yang bergerak di dinding itu mulai menunjukan pada jam setengan
satu dini hari. Ayah ku belum membalasnya.
Sedangkan
dikamar, ibuk semakin bergetar. Aku pun semakin panic.
“Bangunkan umi” Perintah ibuku untuk
membangun kan
umi,nenekku. Aku bangkit dan berjalan
menuju kamar umi. Dan membangunkannya. Umi pun terbangun dan segera bangkit
berjalan menuju kamar ibuk.
Tak jauh beda dengan diriku,umi pun
terlihat panic. Umi menggusuk-gusuk tubuh ibuk.
“Mi, kadang ka ajai long jinoe, bek tuwoe akikah keu si fawwaz hana long peglah
lom, buku bank awak nyo dalam tas long kubah[*] ”
Pesan ibuku kepada umi dalam bahasa aceh. Mendengar hal itu air mata langsung
keluar,tapi aku segera menghapusnya
agar tak terlihat oleh ibuk dan umi. Sungguh ya allah aku menyayanginya, aku
tak mau kejadian pahit empat tahun silam itu kembali terulang. Ku bertahan
sekuat tenaga agar air mata itu tidak lagi keluar.
“jeut[†]”
jawab umi singkat, dari mulut umi juga keluar sahalawat atas nabi. Dan aku pun
ikut bertahlil dalam hati. Tapi hati ku belum juga tenang. Lagi ku ambil handphone ku dan menekan nomor ayah.
Yaaaaaachhh…Tersambung.
“Halo..ayah..ayah
dimana? Cepat pulang ibuk lagi saket.”serbuku untuk ayah.
“ia,ni
ayah lagi pulang..”jawab ayahku singkat. Seketika langsung ku putuskan
panggilan itu. Karena aku geram pada ayah. Dalam keadaan panic begitu,masih
biisa sesantai itu. Lama ku tunggu. Ayah belum pulang juga. Kembali ku
mengirimkan pean singkat untuknya.
To :
Ayah saiia
Ayah dimana lu?? Koq lama kali??”
Tak lama ku menunggu, handphone ku berdering. Tanda ada sms masuk. Langsung ku buka.
From : Ayah saiia
Ayah lagi di ulee kareng.
Ahhhh…semakin
geram saja aku pada ayahku.
To : Ayah saiia
Ayah,capat pulang. Ibuk saket.
Hatiku saat itu sangat bercampur
aduk,ada perasaan yang begitu cemas,khawatir, dan begitu panic serta perasaan
kesal pada ayah yang sangat lama pulang. Terdengar suara deruman mobil di
garasi. Dan pintu depan pun terbuka. Ya hatiku sedikit tenang.
“Kenapa ibuk” Tanya ayah yang
terkejut melihat ibuk yang sudah terbaring di atas tempat tidur.
“Ayah ini dibilang ibuk saket,lama
kali pulangnya” Jawabku yang sudah sangat amat kesal.
“apa perlu dibawa kerumah sakit?”
Tanya ayah lagi.
“Bawa aja terus” Jawab umi.
Semuanya pun setuju, ibuk dibawa
kerumah sakit, aku dan umi pun segera membantu ibu, mengganti pakaiannya,
setelah itu aku pun beres-beres. Aku ikut kerumah sakit. Dan umi tinggal
bersama ketiga adikku,fawwaz,mifra
dan zhia.
Sesampai dirumah
sakit…
Ibuk segera ku papah menuju ke ruang
UGD. Dan ayah segera memarkir mobil di parkiran. Rumah sakit itu sangat sepi.
Mengapa tidak, jarum jam menunjukkan pukul setengah dua. Diruangan UGD ku
baringkan ibuk diatas kasur pasien atas perintah perawat setempat. Kurasakan
hawa didalam ruangan itu sangat dingin. Dan ku pegangi tangan ibuk. Tetap
terasa dingin. Dan ayah telah kembali dari parkiran. Perawat pun datang untuk
memeriksa. Perawat itu memansangkan alat tensi darah ditangan ibuk. Dan segera
memompa alat tensinya. Pada layar alat tensi itu keluar angka “160/96”. Angka
yang tinggi untuk ibuk. Berarti ibuk menderita hipertensi,darah tinggi.
“Ibuk hanya menderita darah
tinggi”Kata perawat itu. Seketika cemas dalam diriku hilang. Aku begitu lega
mendengar itu.
“Jadi tidak ada masalah kan?” Tanya ayahku.
“Ia pak,malam ini mau di bawa pulang
jugak boleh, dirawat pun boleh. Terserah bapak” perawat itu menawarkan pilihan
kepada ayahku.
“ Rawat saja.” Jawab ayahku singkat.
“Baik bapak. Mau dirawat di sal atau
diruang pavilium pak?”
“Pavilium.”
Perawat itu pun segera mengambil
alat infuse, untuk meng-infus ibuk serta menyuruh petugas untuk
menyiapkan ruang inap buat kami. Awalnya ibuk ku tidak mau untuk di-infuse,tapi karena memang harus di-infuse,maka ibukku mengalah. Setelah semuanya beres, ibuk pun di
antarkan ke ruangnya.
Malam itu pun mejadi malam yang
sangat amat mengkhawatirkan. Karena jarum jam sudah menunjukkan pada angka setengah
tiga,aku pun ingin segera melanjutkan tidurku yang tertunda tadi. Ayah juga
terlihat ingin tidur. Maka aku mengawali semuanya untuk duluan tidur. Dan aku
pun terbuai dalam mimpi hingga shubuh tiba.
~000~
Pagi itu ibuk terlihat lebih segar.
Dan sepertinya hari itu ibuk bisa langsung pulang. Hmm..aku bahagia. Terdengar
deringan handphone milik ayahku. Aku
tak tau siapa yang menelpon. Tapi, mendengar pembicaraan ayah di handphone sepertinya itu adikku mifra
yang menelpon. Dan meminta acara ke lautnya harus jadi.
Setelah ibuk dan ayahku berfikir,
maka mereka memutuskan untuk keluar dari rumah sakit hari itu juga, dan
melaksanakan acara yang sudah terencana dari beberapa hari itu.
Hari itu aku menjadi sangat bahagia,aku bisa melupakan
kepanikan malam minggu itu dengan seketika. Ayahpun segera membereskan
administrasi rumah sakit, dan aku membereskan semua barang-barang. Kami pun
pulang kerumah untuk menjemput adik-adik dan umi . Sesampai dirumah, kami
disambut dengan senyum dari adik-adikku, ternyata mereka sudah siap untuk
berangkat ke laut. Mereka pun masuk ke mobil. Dan kami pun meluncur ke ujong
kareung.
Yeee,,,akhir
pekan yang menyenangkan. Batinku.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar