Senin, 16 Juli 2012

Kepanikan Di Malam Minggu


Oleh : Adinda Muna telah di post pada majalah Zennith UIN Wali Songo Semarang 

Besok adalah hari minggu. Kami sekeluarga akan berekreasi ke pantai. Semua persiapan telah kami siapkan. Ini merupakan yang paling senangi. Bermain di laut. Yaaaaa walaupun aku pernah mengalami hal yang pahit dengan laut,,TSUNAMI. Tapi sejenak aku lupakan karena aku ingin bermain dengan panorama alam itu. Karena besok kami akan pergi,maka ibu ku menyuruh ku untuk menyetrika pakaian yang sudah menggunung. Tepat pukul 20.00 WIB
aku nyetrika pakaian dibantu ibuku. Lama ku menyetrika,,hingga pada akhirnya jarum jam tepat berdiri pada angka sebelas.
            Malam itu,ayah ku pergi ke Ujong Batee dengan mengendarai mobil,padahal saat itu ayah ku belum begitu mahir mengendarai kendaraan beroda empat itu. Awal nya ibu ku tak mengizinkannya,tapi karna ayah ku nekat,maka ayahku segera pergi kesana,bersama orang-orang desa setempat . Disana pemuda-pemuda di tempat aku tinggal mengadakan acara syukuran.

Dirumah..
            Rasanya badanku pada pegal-pegal semua setelah nyetrika segitu banyak. Aku berniat untuk segera melepas lelahku. Sebeumnya aku menunaikan ibadah shalat isya terlebih dahulu.
            “Allahummaghfirlii zunubii waliwalidayya warhamhuma kama rabbayanii             shaghiraa” Doa rutinku setiap selesai shalat.
            Hmmm…smua orang rumah sudah terlelap, begitu juga dengan ibu ku. Kecuali ayahku yang masih bermain dengan gelapnya malam di luar sana. Aku pun beranjak ke tempat tidurku,dan siap menuju ke pulau kapuk. Sebelumnya aku memasang headset di telinga ku. Mendengan siaran salah satu radio swasta di banda aceh menjadi pilihanku.
            “………………………….
            ………………………………
            ……………………………
            Tuhan pastikan memberikan kebesaran dan kuasaNya
            Bagi hambaNya yang sabar..
            Dan tak kenal putus asa………”
            Begitulah lirik alunan lagu D’masive  yang kudengar. Dan aku pun mulai mejelajahi dunia impi.
            “ isra…isra…isra…”
Sayup-sayup kudengar panggilan namaku. Dan aku pun terbangun. Ku lihat sesosok perempuan berambut sebahu memanggil-manggil namaku. Ternyata orang itu adalah ibuku. Segera ku jawab.
            “Ya..ada apa buk…???”
            “Tidur dikamar ibuk aja yok…” Kudengar jawaban ibuku yang agak bergetar. Ku lihat jam di dinding menunjukkan pada angka dua belas. Tepat tengah malam.
            “oo..ya buk” aku segera bangkit dari tempat tidur ku.  Dan berjalan menuju kamar ibuk. Dalam pikiranku, “apa ini?? Kenapa ibuk begitu kelihatan cemas”.
            Dikamarnya ibuk segera duduk diatas tempat tidurnya. Ku pegangi tangannya.Dingin. Itu yang ku rasa. Dari bibirnya terus keluar shalawat atas nabi. Aku semakin bertanya-tanya. Tak bisa ku pungkiri, aku begitu cemas dengan keadaan ibu.
            “Kenapa buk?” Tanyaku unutuk menghilangkan tanda Tanya besar dalam pikiranku.
            “Tidak tau, tadi padahal ibuk lagi tidur, tiba terbangun langsung keluar keringat dingin..jantung ibuk langsung bergedup kencang” ceritanya dengan suara bergetar,dan kembali melanjutkan bacaan shalawatnya. Terus ku pegangi tangannya yang dingin itu. Dan kulihat wajahnya yang pucat.
            “Buk,isra buat air gula dulu ya!!” tawarku kepada ibuk.
            “boleh,tapi jangan lama sekali” pinta ibuku kepada ku.
            Segera ku beranjak dan menuju ke dapur. Ku ambil gelas dan gula ,tak lupa ku tuangkan air hangat kedalamnya, sehingga gula itu larut kedalamnya. Entah kemana gula itu menghilang yang pasti gula itu telah menyatu kedalam air. Setelah itu Ku langsung menuju ke kamar ibuk, dengan membawa segelas air gula untuk ibu.
            “Ini buk,diminum dulu”
            Ibuku pun mulai meneguk seteguk demi seteguk sehingga air gula itu habis. Masih terlihat kecemasan di wajahnya. Dan aku pun bertanya lagi.
            “Ibuk khawatir ya sama ayah??”
            “Tidak,sedikitpun ibuk tidak memikirkannya lagi” Dan kembali bershalawat, dan kini keluar butiran-butiran cair dari matanya. Aku pun semakin cemas. Aku tak tau berbuat apa saat itu. Tapi tiba-tiba ku teringat untuk mengirim pesan singkat untuk ayah. Ku ambil handphone nokia tipe 2630 milikku. Dan mulai mengetik pesan singkat.
  To : Ayah saiia
Ayah, dimana sekarang? Ibuk saket.
            Lama ku tunggu balasan dari ayah. Kini lingkaran yang bergerak di dinding itu mulai menunjukan pada jam setengan satu dini hari. Ayah ku belum membalasnya.
Sedangkan dikamar, ibuk semakin bergetar. Aku pun semakin panic.
            “Bangunkan umi” Perintah ibuku untuk membangun kan umi,nenekku. Aku bangkit dan  berjalan menuju kamar umi. Dan membangunkannya. Umi pun terbangun dan segera bangkit berjalan menuju kamar ibuk.
            Tak jauh beda dengan diriku,umi pun terlihat panic. Umi menggusuk-gusuk tubuh ibuk.
            “Mi, kadang ka ajai long jinoe, bek tuwoe akikah keu si fawwaz hana long peglah lom, buku bank awak nyo dalam tas long kubah[*] ” Pesan ibuku kepada umi dalam bahasa aceh. Mendengar hal itu air mata langsung keluar,tapi aku segera menghapusnya agar tak terlihat oleh ibuk dan umi. Sungguh ya allah aku menyayanginya, aku tak mau kejadian pahit empat tahun silam itu kembali terulang. Ku bertahan sekuat tenaga agar air mata itu tidak lagi keluar.
            “jeut[†]” jawab umi singkat, dari mulut umi juga keluar sahalawat atas nabi. Dan aku pun ikut bertahlil dalam hati. Tapi hati ku belum juga tenang. Lagi ku ambil handphone ku dan menekan nomor ayah. Yaaaaaachhh…Tersambung.
            “Halo..ayah..ayah dimana? Cepat pulang ibuk lagi saket.”serbuku untuk ayah.
            “ia,ni ayah lagi pulang..”jawab ayahku singkat. Seketika langsung ku putuskan panggilan itu. Karena aku geram pada ayah. Dalam keadaan panic begitu,masih biisa sesantai itu. Lama ku tunggu. Ayah belum pulang juga. Kembali ku mengirimkan pean singkat untuknya.
To        : Ayah saiia
Ayah dimana lu?? Koq lama kali??”
            Tak lama ku menunggu, handphone ku berdering. Tanda ada sms masuk. Langsung ku buka.
From : Ayah saiia
Ayah lagi di ulee kareng.

Ahhhh…semakin geram saja aku pada ayahku.
To : Ayah saiia
Ayah,capat pulang. Ibuk saket.
            Hatiku saat itu sangat bercampur aduk,ada perasaan yang begitu cemas,khawatir, dan begitu panic serta perasaan kesal pada ayah yang sangat lama pulang. Terdengar suara deruman mobil di garasi. Dan pintu depan pun terbuka. Ya hatiku sedikit tenang.
            “Kenapa ibuk” Tanya ayah yang terkejut melihat ibuk yang sudah terbaring di atas tempat tidur.
            “Ayah ini dibilang ibuk saket,lama kali pulangnya” Jawabku yang sudah sangat amat kesal.
            “apa perlu dibawa kerumah sakit?” Tanya ayah lagi.
            “Bawa aja terus” Jawab umi.
            Semuanya pun setuju, ibuk dibawa kerumah sakit, aku dan umi pun segera membantu ibu, mengganti pakaiannya, setelah itu aku pun beres-beres. Aku ikut kerumah sakit. Dan umi tinggal bersama ketiga adikku,fawwaz,mifra dan zhia.

Sesampai dirumah sakit…
            Ibuk segera ku papah menuju ke ruang UGD. Dan ayah segera memarkir mobil di parkiran. Rumah sakit itu sangat sepi. Mengapa tidak, jarum jam menunjukkan pukul setengah dua. Diruangan UGD ku baringkan ibuk diatas kasur pasien atas perintah perawat setempat. Kurasakan hawa didalam ruangan itu sangat dingin. Dan ku pegangi tangan ibuk. Tetap terasa dingin. Dan ayah telah kembali dari parkiran. Perawat pun datang untuk memeriksa. Perawat itu memansangkan alat tensi darah ditangan ibuk. Dan segera memompa alat tensinya. Pada layar alat tensi itu keluar angka “160/96”. Angka yang tinggi untuk ibuk. Berarti ibuk menderita hipertensi,darah tinggi.
            “Ibuk hanya menderita darah tinggi”Kata perawat itu. Seketika cemas dalam diriku hilang. Aku begitu lega mendengar itu.
            “Jadi tidak ada masalah kan?” Tanya ayahku.
            “Ia pak,malam ini mau di bawa pulang jugak boleh, dirawat pun boleh. Terserah bapak” perawat itu menawarkan pilihan kepada ayahku.
            “ Rawat saja.” Jawab ayahku singkat.
            “Baik bapak. Mau dirawat di sal atau diruang pavilium pak?”
            “Pavilium.”
            Perawat itu pun segera mengambil alat infuse, untuk meng-infus ibuk serta menyuruh petugas untuk menyiapkan ruang inap buat kami. Awalnya ibuk ku tidak mau untuk di-infuse,tapi karena memang harus di-infuse,maka ibukku mengalah. Setelah semuanya beres, ibuk pun di antarkan ke ruangnya.
            Malam itu pun mejadi malam yang sangat amat mengkhawatirkan. Karena jarum jam sudah menunjukkan pada angka setengah tiga,aku pun ingin segera melanjutkan tidurku yang tertunda tadi. Ayah juga terlihat ingin tidur. Maka aku mengawali semuanya untuk duluan tidur. Dan aku pun terbuai dalam mimpi hingga shubuh tiba.
~000~
            Pagi itu ibuk terlihat lebih segar. Dan sepertinya hari itu ibuk bisa langsung pulang. Hmm..aku bahagia. Terdengar deringan handphone milik ayahku. Aku tak tau siapa yang menelpon. Tapi, mendengar pembicaraan ayah di handphone sepertinya itu adikku mifra yang menelpon. Dan meminta acara ke lautnya harus jadi.
            Setelah ibuk dan ayahku berfikir, maka mereka memutuskan untuk keluar dari rumah sakit hari itu juga, dan melaksanakan acara yang sudah terencana dari beberapa hari itu.
            Hari itu aku menjadi sangat bahagia,aku bisa melupakan kepanikan malam minggu itu dengan seketika. Ayahpun segera membereskan administrasi rumah sakit, dan aku membereskan semua barang-barang. Kami pun pulang kerumah untuk menjemput adik-adik dan umi . Sesampai dirumah, kami disambut dengan senyum dari adik-adikku, ternyata mereka sudah siap untuk berangkat ke laut. Mereka pun masuk ke mobil. Dan kami pun meluncur ke ujong kareung.
            Yeee,,,akhir pekan yang menyenangkan. Batinku.
Selesai


[*] Kadang sudah disini ajal saya, akikah untuk si fawwaz belum dilunaskan, dan buku bank milik mereka ada di dalam tas saya simpan.
[†] Ia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar